Proyek Pekerasan Jalan RT 03 Desa Mandala Jaya Disorot, Mutu Pekerjaan Dipertanyakan Warga 

Proyek Pekerasan Jalan RT 03 Desa Mandala Jaya Disorot, Mutu Pekerjaan Dipertanyakan Warga 

Kuala Tungkal,  Suarakeadilanindonesia.id – Proyek pek-erasan jalan di RT 03 Desa Mandala Jaya, Kecamatan Betara, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, kini menjadi perhatian serius masyarakat. Pasalnya, jalan yang baru selesai dibangun pada tahun 2025 dengan menggunakan anggaran desa tersebut dilaporkan sudah mengalami kerusakan di sejumlah titik, sehingga kualitas dan mutu pekerjaannya menuai tanda tanya.

Pantauan awak media di lapangan menunjukkan kondisi jalan pengerasan yang tidak lagi rata. Beberapa bagian tampak amblas dan mengalami kerusakan meski usia bangunan terbilang masih sangat baru. Kondisi ini memicu kekecewaan warga yang sebelumnya menaruh harapan besar agar pembangunan jalan tersebut dapat bertahan lama dan menunjang aktivitas ekonomi serta mobilitas sehari-hari.

“Baru selesai, tapi sudah rusak. Kami berharap jalan ini bisa awet, karena sangat dibutuhkan warga,” ungkap salah seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya.

Saat dikonfirmasi, Kepala Desa Mandala Jaya berinisial SR membenarkan bahwa proyek pengerasan jalan tersebut memang dibangun pada tahun 2025 dan bersumber dari anggaran desa. Namun, ia mengaku tidak mengetahui secara rinci terkait aspek teknis pelaksanaan pekerjaan.

“Benar, proyek itu dibangun tahun 2025 menggunakan anggaran desa. Untuk teknis pekerjaan, itu dikelola oleh tim PKL desa dan berada dalam koordinasi kepala dusun,” ujar SR singkat.

Awak media kemudian menemui Kepala Dusun setempat berinisial MK. Ia juga membenarkan bahwa proyek pengerasan jalan tersebut merupakan kegiatan tahun anggaran 2025.

Menanggapi kondisi jalan yang kini mengalami kerusakan, MK menyebut faktor kondisi tanah sebagai penyebab utama.

“Wilayah ini tanahnya lembek dan merupakan lahan gambut. Selain itu, kendaraan bermuatan berat seperti pinang dan kelapa sering melintas, sehingga sebagian badan jalan mengalami amblas,” jelasnya.

Meski demikian, kondisi tersebut justru memunculkan harapan warga agar pemerintah desa dan pihak terkait melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kualitas pekerjaan. Warga menilai bahwa metode dan spesifikasi pembangunan seharusnya disesuaikan dengan karakteristik tanah gambut, agar hasil pembangunan benar-benar kuat dan memberikan manfaat jangka panjang.

Masyarakat juga berharap adanya pengawasan yang lebih ketat dalam setiap tahapan pembangunan desa, sehingga penggunaan anggaran dapat tepat sasaran dan hasil pekerjaan sesuai dengan standar yang ditetapkan. (Andi/Tim)

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *